B50 Berlaku Penuh, Harga Minyak Goreng Curah Naik dan Produsen Sawit Justru Diuntungkan
Program biodiesel B50 resmi berjalan sejak 1 Oktober 2026. Kebutuhan CPO untuk energi meningkat, sementara harga minyak goreng curah mulai merangkak naik dan pedagang kecil menanggung mahalnya bahan baku.
2026-10-275 menit bacaTim Miniweb

Kebijakan yang Mengubah Arah Permintaan
Program biodiesel B50 resmi berlaku penuh di seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) sejak 1 Oktober 2026. Kebijakan ini menaikkan campuran bahan bakar nabati berbasis minyak sawit dari 40 persen menjadi 50 persen.
Dampaknya terhadap pasar tidak tunggal. Di satu sisi, permintaan CPO untuk sektor energi meningkat. Di sisi lain, harga minyak goreng di tingkat konsumen mulai bergerak naik. Data Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok Kementerian Perdagangan pada 27 Oktober 2026 menunjukkan minyak goreng sawit curah naik 0,17 persen menjadi Rp19.283 per liter di Jambi.
Angka itu terlihat kecil. Namun arah pergerakannya penting: ketika permintaan CPO untuk energi meningkat, tekanan terhadap pasokan untuk pangan ikut menguat.
5,3 juta ton
CPO dialihkan ke biodiesel
Perkiraan tambahan penyerapan untuk B50, di luar kebutuhan pangan
Siapa yang Diuntungkan, Siapa yang Menanggung
Produsen sawit dan emiten perkebunan berada di posisi yang diuntungkan. Harga CPO yang lebih tinggi dan permintaan yang lebih stabil dari sektor energi memberi ruang margin yang lebih baik. Itulah sebabnya saham sawit seperti TAPG, DSNG, dan AALI menguat pada perdagangan 27 Oktober, bahkan ketika IHSG secara keseluruhan melemah.
Pedagang kecil dan konsumen berada di ujung sebaliknya. Seorang penjual sembako di Pasar Intermoda BSD, Tangerang, mengeluhkan modal membeli minyak goreng yang melonjak. Awal 2026, minyak goreng kemasan 2 liter masih Rp38.000. Pada September 2026, harganya menjadi Rp50.000.
Ia juga menyebut pelanggan makin sepi karena banyak yang beralih ke pembelian online yang memberikan diskon. Sementara keuntungannya harus dipotong untuk menyewa lapak yang harganya mendekati Rp2 juta per bulan.
Tekanan yang Sudah Terlihat Sebelum B50
Kenaikan harga minyak goreng bukan sepenuhnya akibat B50. Nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar AS sepanjang 2026 mendorong ekspor kelapa sawit. Ketika volume ekspor tidak seimbang dengan kebutuhan dalam negeri, harga minyak goreng ikut terangkat.
Analisis Harian Kompas terhadap 413 data harian menemukan korelasi 95,9 persen antara nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan harga minyak goreng curah. Rata-rata nilai tukar pada September 2026 sebesar Rp17.749 per dolar, melemah 7,4 persen dibanding September 2025. Sejalan dengan itu, rata-rata nasional harga minyak goreng pada September 2026 mencapai Rp19.808 per liter, naik 8,1 persen secara tahunan.
Dengan kata lain, B50 bukan satu-satunya penyebab. Ia memperbesar tekanan yang sudah ada.
Klaim Pemerintah dan Bantahan yang Muncul
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pada April 2026 bahwa B50 tidak akan memicu kenaikan harga minyak goreng. Ia menyatakan bahwa CPO untuk B50 diambil dari porsi ekspor, bukan dari pasokan pangan, dan produksi nasional meningkat sekitar 6 juta ton.
Namun sejumlah analis melihat risiko yang lebih besar. Peneliti Indef, Afaqa Hudaya, menilai bahwa implementasi penuh B50 akan membutuhkan sekitar 20,1 juta kiloliter FAME dan mengalihkan sekitar 5,3 juta ton CPO ke biodiesel. Menurutnya, ruang antara pertumbuhan produksi dan lonjakan konsumsi domestik semakin sempit.
Afaqa juga menyoroti bahwa tambahan produksi nasional langsung terserap oleh pasar domestik maupun global. Stok akhir Februari 2026 turun menjadi 2,026 juta ton dari 2,250 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Yang Bisa Dilakukan Pemilik Usaha Kecil
Bagi pemilik usaha kuliner, warung makan, atau toko kelontong, kenaikan harga minyak goreng memengaruhi margin secara langsung. Ada beberapa langkah yang bisa diambil tanpa menunggu kebijakan berubah.
Pantau harga secara berkala, bukan sesekali. Harga minyak goreng curah dan kemasan bergerak berbeda. Data harian dari SP2KP atau PIHPS bisa menjadi acuan untuk menyesuaikan harga jual atau porsi.
Pertimbangkan sumber pasokan alternatif. MinyaKita dengan HET Rp15.700 per liter masih tersedia, meskipun stoknya tidak selalu ada di pasar tradisional. Program Gerakan Pangan Murah yang digelar Badan Pangan Nasional secara berkala menawarkan MinyaKita di kisaran Rp15.000–15.500 per liter di sejumlah daerah.
Hitung ulang harga menu atau produk. Jika minyak goreng adalah bahan baku utama, kenaikan Rp1.000 per liter bisa berdampak signifikan pada biaya produksi harian. Penyesuaian harga yang kecil dan bertahap biasanya lebih mudah diterima pelanggan daripada kenaikan sekaligus.
Angka yang perlu dibaca dengan konteks
Harga minyak goreng curah di Jambi, 27 Oktober 2026: Rp19.283 per liter, naik 0,17 persen.
Harga minyak goreng kemasan premium di Jambi: Rp21.485 per liter, stabil.
Rata-rata nasional minyak goreng September 2026: Rp19.808 per liter, naik 8,1 persen secara tahunan.
HET MinyaKita: Rp15.700 per liter, tetapi harga pasar di beberapa daerah masih di atasnya.
Korelasi nilai tukar rupiah-dolar dengan harga minyak goreng: 95,9 persen.
Yang Masih Menunggu
B50 baru berjalan kurang dari satu bulan. Dampak penuhnya terhadap harga minyak goreng belum terlihat sepenuhnya, terutama karena ada jeda antara perubahan kebijakan dan respons pasar.
Yang perlu dipantau bukan hanya harga di tingkat nasional, tetapi juga ketersediaan MinyaKita di pasar tradisional. Jika stok menipis dan harga terus naik, tekanan terhadap usaha kecil akan semakin terasa. Sebaliknya, jika distribusi MinyaKita berjalan lancar dan DMO berfungsi sebagaimana mestinya, dampak B50 terhadap harga pangan bisa diredam.
Bagi pemilik usaha, yang penting bukan menebak arah kebijakan, melainkan memastikan operasional tetap berjalan ketika harga bahan baku bergerak. Fleksibilitas dalam memilih sumber pasokan dan keberanian menyesuaikan harga jual adalah penyangga yang lebih nyata daripada menunggu kepastian.
Baca analisis lengkap dampak B50
Kompas.id mengolah data harga minyak goreng dan nilai tukar untuk melihat korelasi yang jarang dibahas.
Buka analisis Kompas