Bank Mandiri Kucurkan Kredit Rp40 Triliun ke Jhonlin, Rp17 Triliun Sudah Terpakai untuk Tambang Batu Bara
Bank Mandiri membuka rincian fasilitas kredit Rp40 triliun untuk PT Jhonlin Baratama milik Haji Isam. Baru Rp17 triliun terpakai, dengan agunan saham JARR dan PGUN serta rasio jaminan 150 persen.
2026-10-275 menit bacaTim Miniweb

Angka yang Dibuka ke Publik
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk akhirnya memberikan penjelasan resmi kepada Bursa Efek Indonesia mengenai fasilitas kredit jumbo yang diberikan kepada PT Jhonlin Baratama, perusahaan tambang batu bara yang terafiliasi dengan pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam.
Plafon fasilitas kredit tersebut mencapai Rp40 triliun. Hingga surat klarifikasi disampaikan pada 26 Oktober 2026, dana yang telah ditarik atau digunakan baru sebesar Rp17 triliun.
Kredit ini ditujukan untuk mendukung pengembangan usaha Jhonlin Group di industri batu bara dan sektor penunjangnya, mencakup belanja modal (capital expenditure) serta kebutuhan pembiayaan perusahaan dan grup usaha.
Rp40 T
Plafon kredit Bank Mandiri
Rp17 triliun telah terpakai, untuk capex dan pembiayaan Jhonlin Group
Bagaimana Bank Menilai Kelayakan
Bank Mandiri tidak memberikan kredit sebesar itu tanpa perhitungan. Dalam keterbukaan informasinya, bank menyatakan bahwa pemberian fasilitas mempertimbangkan prospek usaha, kinerja keuangan, kemampuan membayar, serta kapasitas pembiayaan mandiri (self-financing) debitur.
Yang menarik, dalam menilai kemampuan pembayaran, Bank Mandiri menyatakan hanya memperhitungkan arus kas dari usaha batu bara yang sudah berjalan. Sumber pembayaran utama berasal dari operasional perusahaan dan dividen dari sejumlah anak usaha yang bergerak di industri yang sama.
Bank juga melakukan uji sensitivitas terhadap pergerakan harga batu bara dan tingkat produksi. Ini penting karena harga komoditas bisa berfluktuasi tajam, dan kemampuan debitur membayar sangat bergantung pada kondisi pasar batu bara.
Agunan dan Rasio 150 Persen
Salah satu alasan kredit ini menjadi perhatian publik adalah agunannya. Bank Mandiri menggunakan aset tetap, aset tidak tetap, rekening perusahaan, serta saham dua entitas yang tercatat di bursa: PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) dan PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN).
Bank menegaskan bahwa saham tersebut berfungsi sebagai sumber pelunasan sekunder (second way out), bukan sumber utama. Penilaiannya mengacu pada POJK Nomor 40/POJK.03/2017 dan dilakukan secara konservatif.
Dengan memperhitungkan harga terendah intraday saham JARR dan PGUN dalam satu bulan terakhir, Bank Mandiri menyatakan rasio cakupan agunan (collateral coverage ratio) tetap terjaga di level 150 persen. Artinya, nilai agunan yang dijaminkan lebih besar daripada nilai kredit yang diberikan.
Perjanjian kredit juga memuat mekanisme top-up atau penambahan agunan jika rasio tersebut tidak terpenuhi. Ini adalah pengaman tambahan yang jarang disebut dalam pemberitaan singkat tentang kredit besar.
Mengapa BEI Meminta Klarifikasi
Penjelasan Bank Mandiri bukan inisiatif sendiri. BEI mengirim surat permintaan klarifikasi bernomor S-13310/BEI.PP1/10-2026 tertanggal 21 Oktober 2026, setelah muncul pemberitaan mengenai saham JARR dan PGUN yang dijadikan jaminan kredit.
BEI juga meminta penjelasan apakah fasilitas kredit tersebut digunakan untuk kegiatan bisnis yang dijalankan bersama PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Dalam jawabannya, Bank Mandiri tidak secara eksplisit menepis maupun membenarkan hal itu. Bank hanya menyatakan bahwa pemantauan penggunaan kredit dilakukan melalui laporan aktivitas usaha berkala sesuai dokumen pembiayaan.
Yang Bisa Dipelajari Pemilik Usaha Kecil
Skala Rp40 triliun tentu jauh dari jangkauan usaha kecil. Namun cara bank menilai kredit dalam kasus ini memberikan beberapa pelajaran yang bisa diterapkan dalam skala lebih kecil.
Pertama, arus kas operasional adalah dasar utama. Bank Mandiri tidak menghitung proyeksi spekulatif atau nilai aset semata. Mereka melihat arus kas dari usaha yang sudah berjalan. Bagi pemilik usaha kecil yang ingin mengajukan pinjaman, catatan arus kas yang rapi dan konsisten lebih meyakinkan daripada proyeksi pertumbuhan yang ambisius.
Kedua, agunan bukan segalanya, tetapi tetap penting. Saham JARR dan PGUN adalah agunan tambahan, bukan sumber utama pembayaran. Dalam skala kecil, ini setara dengan memiliki aset yang bisa dijaminkan, tetapi tetap mengandalkan pendapatan usaha untuk membayar cicilan.
Ketiga, uji sensitivitas membantu mempersiapkan skenario terburuk. Bank menguji apa yang terjadi jika harga batu bara turun atau produksi berkurang. Pemilik usaha kecil bisa melakukan hal serupa: hitung ulang anggaran jika penjualan turun 20 persen, atau jika harga bahan baku naik. Perencanaan yang mempertimbangkan skenario buruk lebih tahan terhadap guncangan.
Siapa Jhonlin Group
PT Jhonlin Baratama didirikan pada 2005 dan bergerak di bidang jasa pertambangan batu bara. Perusahaan ini berada di bawah Jhonlin Group, konglomerasi yang didirikan oleh Haji Isam dan telah berkembang dari pertambangan ke agribisnis, energi, logistik, pelayaran, hingga penerbangan.
Jhonlin Group juga memiliki kepemilikan saham di PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) dan PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN), dua entitas yang sahamnya dijadikan agunan tambahan dalam fasilitas kredit ini.
Pada September 2026, Jhonlin Baratama menandatangani perjanjian bersyarat untuk membeli sekitar 30 persen saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN), salah satu produsen batu bara terbesar di Indonesia. Transaksi ini masih menunggu pemenuhan persyaratan dan belum selesai.
Yang Masih Menunggu
Penjelasan Bank Mandiri menjawab sebagian pertanyaan BEI, tetapi tidak semuanya. Hingga berita ini ditulis, belum ada rincian mengenai jadwal penarikan sisa plafon Rp23 triliun, atau bagaimana penggunaan kredit dipantau dalam praktiknya di luar laporan tertulis.
Bagi publik, kasus ini menjadi pengingat bahwa kredit korporasi besar memiliki lapisan pengamanan yang jarang terlihat di headline: uji sensitivitas, sinking fund, agunan berlapis, dan mekanisme top-up. Tanpa lapisan-lapisan itu, angka Rp40 triliun hanya akan menjadi berita besar tanpa konteks tentang bagaimana risiko sebenarnya dikelola.
Baca keterbukaan informasi resmi Bank Mandiri
Dokumen di situs BEI memuat penjelasan lengkap tentang plafon, agunan, dan mekanisme pengelolaan risiko kredit Jhonlin.
Buka keterbukaan informasi BEI