Danantara Incar Rp30 Triliun dari Data Center AI, tapi Harus Antre Chip 16–48 Bulan
Danantara memproyeksikan nilai ekonomi lebih dari Rp30 triliun dari ekosistem data center AI. Namun kelangkaan chip global dan kebutuhan air pendinginan menjadi hambatan yang harus diatasi lebih dulu.
2026-10-254 menit bacaTim Miniweb

Angka Besar di Balik Forum
Danantara Indonesia menargetkan nilai ekonomi lebih dari Rp30 triliun, setara sekitar 1,7 miliar dolar AS, dari pengembangan infrastruktur pusat data berbasis kecerdasan buatan. Target ini menjadi salah satu agenda utama dalam Danantara Technology, Innovation, and Investment Forum (DTIIF) 2026 yang berlangsung 26–28 Oktober di Jakarta.
Chief Technology Officer Danantara, Sigit Puji Santosa, menjelaskan logika di balik angka tersebut. Jika Indonesia hanya menyewakan lahan untuk pusat data berkapasitas 100 megawatt, investasi yang masuk memang bisa mencapai 3 hingga 4 miliar dolar AS. Namun pendapatan yang diterima hanya sekitar 100 hingga 150 juta dolar AS.
Hitungannya berubah jika Indonesia ikut masuk ke rantai nilai yang lebih dalam: kemitraan strategis, penguasaan chip, dan pengendali berbasis AI. Dengan skenario itu, penerimaan diproyeksikan melesat menjadi 1,5 hingga 1,7 miliar dolar AS.
Rp30 T
Target nilai ekonomi
Dari ekosistem data center AI, setara sekitar 1,7 miliar dolar AS
Dua Hambatan yang Tidak Bisa Diabaikan
Rencana sebesar itu tidak berjalan di ruang kosong. Ada dua kendala yang disebut langsung oleh Danantara, dan keduanya bukan persoalan yang bisa diselesaikan dalam hitungan bulan.
Pertama, kelangkaan chip. Danantara menyebut waktu tunggu untuk komponen chip dan pengendali di pasar global mencapai 16 hingga 48 bulan. Artinya, bahkan jika semua perizinan dan pendanaan selesai hari ini, komponen inti untuk menjalankan pusat data AI belum tentu tersedia dalam waktu dekat.
Untuk mengatasinya, Danantara telah menandatangani kerja sama dengan Arm, perusahaan semikonduktor asal Inggris, untuk mengembangkan desain chip bersama. Sejumlah BUMN ditugaskan mengawal kerja sama ini, dengan tujuan agar ketergantungan pada antrean global berkurang.
Kedua, kebutuhan air untuk pendinginan. Pusat data AI menghasilkan panas dalam jumlah besar dan membutuhkan sistem pendinginan yang andal. Polemik proyek di Jatiluhur, Jawa Barat, sempat menghentikan sementara pembangunan akibat persoalan pasokan air baku dan tata ruang.
Danantara menyatakan bahwa penggunaan air tidak berarti air tersebut habis terpakai, karena ada sistem sirkulasi yang dirancang untuk mengurangi konsumsi air bersih. Namun hingga berita ini ditulis, rincian teknis dan lokasi implementasi sistem tersebut belum dipublikasikan secara luas.
Mengapa Ini Relevan bagi Usaha Kecil
Skala Rp30 triliun dan antrean chip 48 bulan terdengar jauh dari operasional toko online atau usaha jasa. Namun ada tiga hal yang bisa dipelajari tanpa harus memiliki proyek infrastruktur.
Pertama, nilai tambah datang dari rantai yang lebih dalam. Danantara tidak ingin berhenti di menyewakan lahan. Mereka ingin masuk ke chip dan pengendali AI. Dalam skala kecil, prinsip yang sama berlaku: menjual produk orang lain memberi margin tipis, sementara menguasai proses atau keahlian tertentu memberi ruang pertumbuhan yang lebih besar.
Kedua, risiko rantai pasok harus dipetakan sebelum eksekusi. Danantara tahu chip bisa tertunda hingga empat tahun, dan mereka mulai membangun aliansi desain chip sebelum pusat data berdiri. Untuk usaha kecil, ini setara dengan memiliki pemasok cadangan atau stok penyangga sebelum permintaan melonjak, bukan setelah kehabisan barang.
Ketiga, sumber daya yang terbatas bukan alasan untuk tidak mulai. Air dan chip adalah kendala nyata. Danantara tidak menunggu keduanya selesai sebelum menggelar forum dan menandatangani kemitraan. Mereka bergerak sambil menyelesaikan hambatan. Bagi pemilik usaha, menunggu semua kondisi ideal biasanya berarti tidak pernah mulai.
Konteks angka yang perlu dibaca hati-hati
Proyeksi Rp30 triliun berasal dari skenario keterlibatan dalam rantai nilai chip dan pengendali AI, bukan dari pendapatan sewa lahan.
Angka 1,5–1,7 miliar dolar AS adalah proyeksi penerimaan tahunan dari skenario tersebut, bukan nilai investasi yang sudah terealisasi.
Waktu tunggu chip 16–48 bulan adalah kondisi pasar global saat pernyataan disampaikan pada 19 Oktober 2026.
Proyek Jatiluhur sempat dihentikan sementara akibat persoalan air dan tata ruang; Danantara menyatakan akan menyelesaikannya melalui sistem sirkulasi, tetapi detailnya belum dipublikasikan.
Yang Masih Menunggu Bukti
DTIIF 2026 baru berlangsung hingga 28 Oktober. Kesepakatan yang diraih dalam forum belum tentu berubah menjadi investasi yang mengalir dalam waktu dekat, terutama karena kendala chip dan air masih terbuka.
Sigit sendiri menyatakan bahwa keberhasilan forum diukur dari apa yang terbangun setelah acara berakhir, bukan dari kemeriahan panggung. Standar itu tepat, tetapi juga sulit. Dengan antrean chip yang bisa mencapai empat tahun, dampak nyata dari forum ini mungkin baru terlihat jauh setelah tiga hari acara selesai.
Bagi pembaca yang ingin mengikuti jejaknya, perhatikan apakah Danantara mempublikasikan rincian mitra chip, lokasi pusat data, dan solusi pendinginan yang benar-benar diterapkan. Tanpa itu, angka Rp30 triliun tetap menjadi proyeksi, bukan realisasi.
Baca liputan lengkap target Danantara
SINDOnews merinci proyeksi nilai ekonomi, pernyataan CTO Danantara, dan konteks kelangkaan chip global.
Buka berita SINDOnews