Danantara Siapkan Rp100 Triliun untuk Sritex, UMKM Tekstil Waswas Soal Harga Bahan Baku
Danantara mengkaji opsi akuisisi aset Sritex atau membangun pabrik baru untuk membentuk BUMN tekstil. Estimasi kebutuhan dana capai Rp100 triliun, sementara pelaku usaha kecil khawatir konsolidasi ini mengubah peta persaingan.
2026-10-275 menit bacaTim Miniweb

Raksasa yang Sedang Dipertimbangkan
Danantara Indonesia membuka peluang mengambil alih aset PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) sebagai bagian dari rencana membentuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor tekstil. Langkah ini masih dalam tahap pengkajian, dengan dua opsi yang dipertimbangkan: mengakuisisi perusahaan yang sudah ada atau membangun pabrik baru dari nol.
Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, menyatakan bahwa akuisisi menjadi salah satu opsi terutama jika perusahaan yang bersangkutan menghadapi kesulitan usaha dan berpotensi mengurangi banyak tenaga kerja. "Kalau dia berdampak, misalkan tadi kalau dia mati terjadi pengurangan karyawan yang banyak, nah ini kan kita harus selamatkan juga yang begitu. Tapi kita perbaiki bisnis modelnya dengan benar dan dengan lebih rapi," ujar Dony di Jakarta, Senin (26/10/2026).
Terkait Sritex, Dony belum memastikan apakah perusahaan itu akan diakuisisi. "Ya, kita sedang melakukan evaluasi. Ya mudah-mudahan nanti akan. Teman-teman akan lihat. Kan semua akan terbuka," katanya.
Rp100 T
Estimasi kebutuhan akuisisi
Perkiraan Menteri Perindustrian untuk mengambil alih Sritex
Angka yang Belum Final
Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji sebelumnya menyebut bahwa kebutuhan dana untuk mengakuisisi Sritex diperkirakan mencapai lebih dari Rp100 triliun. Namun Dony menegaskan bahwa Danantara belum menetapkan besaran anggaran. "Jumlahnya berapa dan itu tergantung daripada kebutuhannya nanti dalam kita memulai membangun industri tekstil ini," ujarnya.
Rencana ini bukan hal baru. Sejak awal 2026, pemerintah telah membicarakan pembentukan BUMN tekstil dengan dana yang digadang-gadang mencapai 6 miliar dolar AS. Namun sejumlah asosiasi industri mempertanyakan efektivitas langkah tersebut. Ketua Asosiasi Produsen Benang dan Serat Filamen Indonesia, Redma Gita Wirawasta, menilai bahwa perbaikan iklim usaha sama pentingnya dengan membangun BUMN. "Menyelamatkan Sritex akan memakan biaya setidaknya Rp8 triliun, jadi harus ada ruang untuk insentif bagi pelaku swasta," katanya, seraya menyebut bahwa dana 6 miliar dolar AS tersebut bisa memicu hingga 60 miliar dolar AS investasi swasta.
Cakupan Hulu ke Hilir
Yang perlu dicermati oleh pelaku usaha kecil adalah cakupan rencana ini. Dony menyatakan bahwa Danantara tidak hanya akan masuk ke sektor hilir, tetapi seluruh rantai pasok: hulu, menengah, dan hilir. "Nanti begitu kami mulai, kami akan masuk itu di tekstil itu tidak hanya di downstream-nya, tapi mulai dari upstream-nya, midstream-nya, sampai downstream-nya," ujarnya.
Bagi UMKM tekstil dan garmen, konsolidasi di sektor hulu bisa berdampak pada harga bahan baku. Jika BUMN tekstil menguasai produksi benang, kain, atau serat, dinamika pasokan ke produsen kecil bisa berubah. Di satu sisi, pasokan yang lebih stabil dan terintegrasi berpotensi menurunkan harga. Di sisi lain, dominasi pemain besar dalam satu rantai pasok sering kali mempersempit ruang gerak usaha kecil yang selama ini mengandalkan pemasok alternatif.
Keraguan yang Sudah Ada Sejak Awal
Rencana ini bukan tanpa kritik. Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani, memperingatkan bahwa keterlibatan negara yang terlalu dalam sebagai pemain pasar langsung berisiko menyingkirkan investasi swasta. Menurutnya, BUMN tekstil memiliki keunggulan struktural seperti modal yang lebih murah dan preferensi kebijakan, yang tanpa desain kemitraan yang tepat dapat mendistorsi pasar.
Ekonom dari Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, juga mempertanyakan mengapa perhatian tampak terfokus pada Sritex, sementara perusahaan lain di industri yang sama juga membutuhkan dukungan. Ia menilai intervensi negara justru berpotensi melemahkan proses pemulihan sektor tekstil secara keseluruhan.
Kritik-kritik ini bukan berarti rencana Danantara pasti gagal. Namun mereka menunjukkan bahwa penyelamatan satu perusahaan besar tidak otomatis menyelesaikan persoalan struktural yang lebih luas: impor yang membanjiri pasar, biaya produksi yang tidak kompetitif, dan akses pasar ekspor yang semakin sulit.
Konteks Sritex dan industri tekstil
Sritex dinyatakan pailit pada Oktober 2024 dan resmi menghentikan operasi pada Maret 2025. Lebih dari 10.000 pekerja terdampak PHK.
Sebelum pandemi, Sritex adalah salah satu produsen tekstil terintegrasi terbesar di Asia Tenggara dengan pendapatan puncak 1,3 miliar dolar AS pada 2019. Namun pendapatannya turun menjadi 325 juta dolar AS pada 2023, sementara utang mencapai 1,6 miliar dolar AS.
Industri tekstil nasional menyerap sekitar 3,96 juta tenaga kerja dan menyumbang 0,97 persen PDB pada sembilan bulan pertama 2025.
Ekspor tekstil Indonesia pada 2024 mencapai 11,9 miliar dolar AS. Pemerintah menargetkan kenaikan menjadi 40 miliar dolar AS dalam sepuluh tahun.
Yang Masih Menunggu Kepastian
Hingga berita ini ditulis, Danantara belum memutuskan apakah akan mengakuisisi Sritex, membangun pabrik baru, atau memilih kombinasi keduanya. Dony juga belum merinci jadwal, lokasi, atau mitra yang akan dilibatkan.
Bagi pemilik usaha kecil di sektor tekstil dan garmen, keputusan ini layak dipantau bukan karena Sritex secara langsung memengaruhi operasional mereka, melainkan karena arah kebijakan yang menyertainya. Jika BUMN tekstil benar-benar berdiri dan menguasai rantai pasok dari hulu ke hilir, lanskap persaingan akan berubah. Apakah perubahan itu membuka peluang atau menutup ruang, bergantung pada bagaimana desain kemitraan dengan usaha kecil dirancang—sesuatu yang belum terlihat dalam pengumuman-pengumuman awal.
Baca liputan lengkap rencana BUMN tekstil
Kontan merinci opsi akuisisi, pernyataan Danantara, dan konteks kritik dari asosiasi industri.
Buka berita Kontan