DTIIF 2026 dan Jurang Adopsi AI: Ketika Forum Investasi Triliunan Belum Menyentuh UMKM
Danantara menggelar DTIIF 2026 untuk menarik modal global ke enam sektor strategis, termasuk AI. Namun survei Kadin menunjukkan adopsi teknologi baru benar-benar dirasakan oleh 39% perusahaan besar, sementara UMKM masih bergulat dengan pasar produk baru.
2026-10-255 menit bacaTim Miniweb

Forum Besar, Pertanyaan Sederhana
Pada 26 hingga 28 Oktober 2026, Danantara Indonesia menggelar Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Fairmont Jakarta. Forum ini mempertemukan lebih dari 1.500 peserta, termasuk 131 CEO perusahaan teknologi global, 170 inovator, dan peraih Nobel Ekonomi, untuk membahas investasi di enam sektor strategis: energi; pertanian, pangan, dan kesehatan; material maju dan semikonduktor; transportasi dan infrastruktur; keuangan dan perbankan; serta AI, infrastruktur digital, dan telekomunikasi.
Chief Technology Officer Danantara, Sigit Puji Santosa, menyatakan bahwa keberhasilan forum tidak diukur dari kemeriahan acara, melainkan dari apa yang terbangun setelahnya. "Setiap kemitraan, MoU, dan pipeline proyek dari forum ini akan terus ditindaklanjuti," ujarnya.
Namun di balik ambisi menarik modal global itu, ada pertanyaan yang jarang diajukan di panggung-panggung utama: siapa sebenarnya yang akan merasakan manfaat teknologi ini di tingkat paling bawah?
Apa yang Dikatakan Data tentang Adopsi Teknologi
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia merilis survei Business Pulse kuartal III 2026 yang melibatkan 330 pelaku usaha di 28 provinsi. Hasilnya menunjukkan bahwa perkembangan teknologi menjadi sumber sentimen positif yang paling banyak dirasakan, yaitu 18,2 persen responden, disusul pasar untuk produk baru (17,3 persen) dan kebijakan pemerintah (15,8 persen).
Namun angka agregat itu menyembunyikan perbedaan yang tajam. Ketika data dipecah berdasarkan skala usaha, usaha mikro justru menempatkan pasar untuk produk baru sebagai hal paling positif, dengan 24,9 persen responden. Perkembangan teknologi hanya berada di urutan ketiga. Sementara itu, perusahaan besar menempatkan teknologi sebagai faktor optimisme utama, dengan 39 persen responden menyatakannya.
Direktur Insights Kadin Indonesia Institute, Fakhrul Fulvian, mengungkapkan temuan ini secara eksplisit: "Yang paling memang menekankan perkembangan teknologi sebagai hal yang positif itu adalah perusahaan besar".
Artinya, adopsi AI dan teknologi digital di Indonesia masih terkonsentrasi pada korporasi yang memiliki modal, talenta, dan kapasitas organisasi untuk mengintegrasikannya. UMKM, yang menyerap sebagian besar tenaga kerja nasional, belum melihat teknologi sebagai prioritas utama. Mereka masih berjuang di level paling dasar: menemukan pasar.
Penting
Forum investasi yang menghubungkan modal global dengan proyek strategis nasional penting. Tetapi jika manfaatnya tidak mengalir ke 64 juta UMKM, maka transformasi digital hanya akan memperlebar kesenjangan, bukan menutupnya.
Mengapa UMKM Tidak Otomatis Terjangkau
Ada beberapa alasan struktural mengapa gelaran sebesar DTIIF tidak serta-merta menyejahterakan UMKM.
Pertama, orientasi forum. DTIIF 2026 dirancang untuk mempertemukan proyek prioritas nasional dengan investor global. Enam sektor yang dibahas adalah energi, semikonduktor, AI, infrastruktur digital, dan sejenisnya. Ini adalah ranah korporasi besar dan BUMN. Tidak ada satu pun sesi yang secara spesifik membahas bagaimana UMKM dapat mengakses teknologi yang dihasilkan dari investasi tersebut.
Kedua, sifat teknologi yang diinvestasikan. Investasi di pusat data, semikonduktor, dan infrastruktur AI menghasilkan fondasi. Fondasi ini penting, tetapi tidak langsung dapat digunakan oleh pedagang kecil yang membutuhkan alat sederhana untuk mencatat stok atau memprediksi permintaan. Jarak antara infrastruktur dan aplikasi adalah jarak yang harus dijembatani oleh kebijakan dan program pendampingan.
Ketiga, kapasitas absorpsi. Survei Kadin menunjukkan bahwa usaha kecil dan menengah sebenarnya sudah menempatkan teknologi sebagai prioritas kedua, dengan 29,2 persen responden. Ini adalah sinyal positif. Namun usaha mikro, yang jumlahnya jauh lebih besar, masih berfokus pada pasar. Artinya, ada tangga yang harus dinaiki sebelum UMKM mikro dapat memanfaatkan AI secara bermakna.
Apa yang Bisa Dilakukan Tanpa Menunggu Forum Berakhir
Kritik terhadap jurang adopsi bukan berarti menolak investasi. Sebaliknya, investasi teknologi tetap diperlukan. Yang perlu dipastikan adalah adanya jembatan antara hulu dan hilir.
Pertama, Danantara dan mitranya dapat mengalokasikan sebagian dari pipeline proyek untuk program pilot yang menyasar UMKM secara langsung. Misalnya, model AI untuk prediksi permintaan yang dilatih dengan data agregat UMKM, lalu disediakan sebagai layanan murah melalui platform yang sudah ada. Ini bukan hal yang mustahil, tetapi membutuhkan niat sejak awal, bukan sebagai program tanggung jawab sosial setelah proyek utama selesai.
Kedua, Kadin telah menunjukkan arah. Kepala Badan Ekosistem Digital Kadin, Firlie Ganinduto, menyebutkan bahwa AI dapat membantu UMKM menganalisis pola permintaan konsumen, merancang strategi promosi yang lebih terarah, dan mengoptimalkan pengelolaan inventori. Ini adalah use case konkret yang dapat dimulai tanpa menunggu infrastruktur besar selesai.
Ketiga, bagi pelaku UMKM yang membaca artikel ini, tidak perlu menunggu program pemerintah. Alat AI generatif yang tersedia gratis atau berbiaya rendah sudah cukup untuk membantu menulis deskripsi produk, merangkum umpan balik pelanggan, atau membuat jadwal konten media sosial. Nilainya memang kecil, tetapi dampaknya pada efisiensi bisa terasa.
Mengapa survei Kadin hanya melibatkan 330 responden?
Survei Business Pulse Kadin Indonesia Institute menggunakan 330 responden anggota Kadin yang tersebar di 28 provinsi, dengan periode pengambilan data 14 hingga 30 September 2026. Jumlah ini tidak dimaksudkan untuk mewakili seluruh UMKM Indonesia secara statistik, melainkan untuk menangkap sentimen pelaku usaha yang terafiliasi dengan Kadin. Temuan tentang perbedaan antara usaha mikro dan perusahaan besar tetap bernilai sebagai indikasi arah, bukan angka absolut.
Penutup: Dua Ukuran Keberhasilan
DTIIF 2026 akan berakhir pada 28 Oktober. Setelah itu, yang tersisa adalah janji-janji dan pipeline proyek yang harus dibuktikan. Sigit Puji Santosa benar ketika mengatakan bahwa keberhasilan forum diukur dari apa yang terbangun setelahnya.
Tetapi ukuran itu perlu diperluas. Bukan hanya berapa miliar dolar yang masuk, atau berapa MoU yang ditandatangani. Tetapi juga: berapa banyak UMKM yang akhirnya bisa mengakses teknologi yang dihasilkan, dan berapa persen dari mereka yang merasakan dampaknya pada pendapatan.
Tanpa ukuran kedua itu, forum investasi terbesar tahun ini hanya akan menjadi catatan sejarah tentang pertemuan orang-orang penting, bukan tentang perubahan yang sampai ke warung dan toko di seluruh Indonesia.
Menggunakan teknologi membuat kita lebih produktif, tapi menguasai teknologi membuat kita lebih kompetitif.