Dua Tahun Pemerintahan Baru, Startup Indonesia Masih Tanpa Unicorn dan Pendanaan Makin Selektif

Pendanaan startup Indonesia 2026 baru US$392 juta, dan sekitar 69 persen di antaranya berasal dari satu putaran Ajaib. Hanya 15 persen startup tahap awal yang berhasil naik ke Seri A.

2026-10-274 menit bacaTim Miniweb

Dua Tahun Pemerintahan Baru, Startup Indonesia Masih Tanpa Unicorn dan Pendanaan Makin Selektif

Angka yang Terlihat Membaik, tapi Menipu

Memasuki tahun kedua pemerintahan Prabowo-Gibran, ekosistem startup Indonesia masih berada di fase konsolidasi. Kepala Ekonom Bank Central Asia, David E. Sumual, menyebut Indonesia memiliki lebih dari 3.100 startup aktif dan merupakan ekosistem terbesar keenam di dunia. Namun sejak 2024, tidak ada satu pun startup nasional yang mencapai status unicorn.

Dari sisi pendanaan, angka terlihat membaik. Sepanjang 2025, pendanaan startup Indonesia tercatat US$358 juta. Hingga Oktober 2026, nilainya naik menjadi US$392 juta.

Namun kenaikan itu perlu dibaca dengan hati-hati. Sekitar US$270 juta dari total tersebut berasal dari satu putaran pendanaan fintech Ajaib pada Agustus 2026. Tanpa transaksi itu, pendanaan sektor startup secara keseluruhan masih jauh dari pulih.

15%

Startup tahap awal lolos ke Seri A

Kesenjangan terbesar terjadi di tahap menengah

Masalahnya di Tengah, Bukan di Awal

David menyebut akar persoalan bukan pada minimnya jumlah startup baru, melainkan pada kesenjangan antar tahap pertumbuhan. Hanya sekitar 15 persen startup tahap awal yang berhasil naik ke pendanaan Seri A.

Artinya, banyak usaha berhasil melewati fase rintisan, tetapi tidak cukup kuat atau tidak cukup siap untuk masuk ke tahap pertumbuhan berikutnya. Di sinilah aliran modal terhenti.

Penyebabnya berlapis. Era uang murah sudah berakhir, suku bunga tinggi membuat investor lebih selektif, dan sejumlah persoalan tata kelola di perusahaan teknologi menurunkan kepercayaan pasar. Investor kini menuntut jalur yang lebih jelas menuju profitabilitas, bukan sekadar pertumbuhan pengguna.

Jalur Likuiditas Bergeser

David juga mencatat pergeseran cara investor keluar dari investasinya. Merger dan akuisisi kini menggeser IPO sebagai jalur likuiditas utama. Pasar sekunder perlu didorong agar kesinambungan antar tahap pendanaan tetap terjaga.

Bagi pendiri usaha, implikasinya praktis: strategi ekspansi tidak bisa lagi hanya mengandalkan asumsi bahwa akan ada putaran pendanaan berikutnya. Pilihan sumber dana harus disesuaikan dengan tahap usaha. Angel investor lebih sesuai untuk tahap awal, modal ventura untuk tahap pertumbuhan, private equity untuk yang mendekati IPO, dan pembiayaan perbankan untuk usaha matang yang memiliki aset.

Yang Bisa Diambil Pemilik Usaha Kecil

Skala startup teknologi memang berbeda dari usaha kecil sehari-hari. Namun ada tiga pelajaran yang relevan tanpa harus mencari investor.

Pertama, jangan mengukur keberhasilan dari besar kecilnya pendanaan. Angka US$392 juta terlihat besar, tetapi hampir 70 persennya berasal dari satu transaksi. Dalam skala usaha kecil, satu pesanan besar tidak otomatis berarti bisnis sedang sehat. Yang lebih penting adalah apakah pendapatan berulang dan arus kas stabil.

Kedua, kesiapan antar tahap menentukan kelangsungan. Startup yang gagal naik ke Seri A bukan karena idenya buruk, tetapi karena tidak siap menghadapi tuntutan tahap berikutnya. Untuk usaha kecil, ini setara dengan memastikan pembukuan, tata kelola, dan kapasitas operasional siap sebelum mengejar ekspansi atau pinjaman yang lebih besar.

Ketiga, jalur pendanaan tidak selalu berarti investor. Merger, akuisisi, kemitraan strategis, atau pinjaman perbankan adalah alternatif yang lebih realistis bagi banyak usaha. Menunggu pendanaan ventura datang bisa menghabiskan waktu yang lebih baik dipakai untuk memperkuat operasional.

Angka pendanaan yang perlu dibaca dengan konteks

Pendanaan 2025: US$358 juta, turun sekitar 50 persen dari periode sebelumnya.

Pendanaan hingga Oktober 2026: US$392 juta, termasuk US$270 juta dari Ajaib.

Porsi Ajaib terhadap total pendanaan 2026: sekitar 69 persen.

Startup aktif: lebih dari 3.100, terbesar keenam di dunia.

Unicorn baru sejak 2024: tidak ada.

Singapura 2025: US$4,2 miliar, setara 78,1 persen pendanaan Asia Tenggara.

Yang Masih Menunggu

David memperkirakan pemulihan ekosistem startup akan berlangsung bertahap dan selektif. Euforia pendanaan seperti masa pandemi sulit terulang. Sektor AI dan fintech dinilai masih memiliki peluang tumbuh, tetapi arah suku bunga, stabilitas politik, dan perbaikan tata kelola akan menentukan kecepatannya.

Bagi pembaca Miniweb yang menjalankan usaha, kesimpulannya bukan untuk menunggu kondisi membaik. Justru sebaliknya: ketika modal sulit dan investor selektif, usaha yang bertahan adalah yang tidak bergantung pada pendanaan eksternal untuk tetap beroperasi.

Baca analisis lengkap pendanaan startup

Bisnis Tekno merinci pernyataan Kepala Ekonom BCA tentang fase konsolidasi, kesenjangan tahap menengah, dan rekomendasi kebijakan.

Buka berita Bisnis Tekno

Kembali ke indeks blog