Indofood Siapkan Rp750 Miliar untuk Buyback, Laba per Saham Naik Tipis

INDF akan membeli kembali sahamnya mulai 26 Oktober hingga 31 Desember 2026 dengan dana maksimal Rp750 miliar. Buyback ini diproyeksikan menaikkan laba per saham dari Rp538 menjadi Rp545.

2026-10-254 menit bacaTim Miniweb

Indofood Siapkan Rp750 Miliar untuk Buyback, Laba per Saham Naik Tipis

Aksi Korporasi di Akhir Tahun

PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) menyiapkan dana maksimal Rp750 miliar untuk membeli kembali saham perseroan di Bursa Efek Indonesia. Periode buyback berlangsung mulai 26 Oktober hingga 31 Desember 2026.

Dana tersebut berasal dari kas internal perusahaan, dan belum mencakup biaya transaksi, komisi perantara, serta biaya lain yang terkait. Indofood menetapkan batas maksimal pembelian sebesar 20 persen dari modal disetor, dengan tetap memperhatikan ketentuan free float atau jumlah saham yang beredar di publik.

Manajemen menyatakan bahwa perseroan memiliki tingkat permodalan dan arus kas yang memadai untuk mendukung inisiatif usaha ke depan. Buyback diperkirakan tidak menimbulkan dampak negatif material terhadap kegiatan usaha maupun posisi keuangan perusahaan.

Rp750 M

Anggaran buyback INDF

Periode 26 Oktober–31 Desember 2026, sumber dana kas internal

Apa yang Berubah di Laporan Keuangan

Buyback tidak mengubah laba bersih, tetapi mengubah jumlah saham yang beredar. Karena laba dibagi ke saham yang lebih sedikit, laba per saham (EPS) naik.

Berdasarkan proforma keuangan per 30 Juni 2026, total aset INDF diproyeksikan turun dari Rp231,25 triliun menjadi Rp230,50 triliun setelah buyback. Total ekuitas menyusut dari Rp124,71 triliun menjadi Rp123,96 triliun. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tetap Rp4,72 triliun, tetapi laba per saham meningkat dari Rp538 menjadi Rp545.

Kenaikan Rp7 per saham terlihat kecil. Namun dalam konteks aksi korporasi, angka ini menunjukkan mekanisme yang bekerja: perusahaan mengalihkan sebagian aset dari kas menjadi saham treasuri, sehingga rasio keuangan tampak lebih efisien tanpa ada perubahan pada operasional.

Bukan Hanya Indofood

INDF tidak bergerak sendiri. Dua emiten lain yang terafiliasi dengan Grup Salim—PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP)—juga menyiapkan dana masing-masing hingga Rp750 miliar untuk buyback pada periode yang sama. Total alokasi ketiganya mencapai Rp2,25 triliun.

Pergerakan saham ketiganya beragam setelah pengumuman pada 23 Oktober. Pada perdagangan Jumat (23/10), saham ICBP turun 0,42 persen ke Rp5.975, sementara INDF naik 1,89 persen ke Rp6.750 dan LSIP menguat 1,73 persen ke Rp1.470. Dalam periode lima hari, LSIP mencatat kenaikan tertinggi 17,6 persen, disusul INDF 3,85 persen, sedangkan ICBP terkoreksi 0,42 persen.

Mengapa Perusahaan Melakukan Buyback

Buyback bukan aksi yang bisa dilakukan sembarangan. OJK mengatur bahwa pembelian kembali saham dalam kondisi pasar berfluktuasi signifikan dapat dilakukan tanpa persetujuan RUPS, dengan batas maksimal 20 persen dari modal disetor.

Tujuan utamanya adalah memberikan sinyal kepada pasar bahwa perusahaan percaya pada fundamentalnya sendiri. Dengan mengurangi jumlah saham beredar, harga saham yang tersisa berpotensi naik, dan rasio keuangan seperti EPS menjadi lebih menarik di mata investor.

Namun ada sisi lain yang perlu dicatat: buyback mengalihkan kas perusahaan menjadi saham treasuri. Jika perusahaan membutuhkan dana untuk ekspansi atau menghadapi krisis, kas yang sudah terpakai untuk buyback tidak bisa digunakan lagi. Manajemen INDF menyatakan arus kas masih memadai, tetapi keputusan ini tetap mengurangi fleksibilitas keuangan dalam jangka pendek.

Angka proforma INDF setelah buyback

Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026 dengan asumsi buyback mencapai nilai maksimal Rp750 miliar:

  • Total aset: Rp231,25 triliun → Rp230,50 triliun
  • Total ekuitas: Rp124,71 triliun → Rp123,96 triliun
  • Laba bersih: tetap Rp4,72 triliun
  • Laba per saham: Rp538 → Rp545

Yang Perlu Dicermati Investor Ritel

Bagi pemegang saham INDF atau investor yang memantau saham blue chip, buyback sering dibaca sebagai sinyal positif. Tetapi ada beberapa hal yang perlu diperiksa sebelum mengambil keputusan.

Pertama, lihat realisasi, bukan hanya pengumuman. Buyback memiliki periode yang berakhir pada 31 Desember 2026 atau lebih awal jika anggaran Rp750 miliar telah tercapai. Perhatikan laporan realisasi yang akan datang: apakah dana benar-benar terpakai seluruhnya atau hanya sebagian.

Kedua, pahami bahwa EPS naik bukan karena kinerja operasional. Kenaikan laba per saham dalam proforma berasal dari berkurangnya jumlah saham, bukan dari peningkatan penjualan atau efisiensi. Jika ingin menilai kinerja perusahaan, tetap fokus pada laba bersih dan pertumbuhan pendapatan.

Ketiga, buyback bukan jaminan harga saham naik. Pasar dapat bereaksi berbeda tergantung kondisi makro, sentimen investor, dan faktor lain di luar aksi korporasi itu sendiri.

Baca keterbukaan informasi resmi INDF

Dokumen di situs BEI memuat rincian rencana buyback, sumber dana, dan proforma keuangan lengkap.

Buka keterbukaan informasi BEI

Kembali ke indeks blog