Pabrik Sepatu PWI Tutup, 1.100 Buruh PHK dan Kantin Sekitar Kehilangan Pembeli
PT Parkland World Indonesia 6 di Lebak berhenti beroperasi setelah kontrak gedung habis. Dampaknya tidak hanya pada 1.100 pekerja, tetapi juga UMKM kantin yang kehilangan pelanggan harian.
2026-10-274 menit bacaTim Miniweb

Berhenti Setelah Kontrak Habis
PT Parkland World Indonesia (PWI) 6 di Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, resmi menghentikan operasionalnya pada Oktober 2026. Perusahaan manufaktur alas kaki milik pengusaha Korea Selatan itu tidak memperpanjang kontrak sewa gedung yang telah digunakan sejak 2018.
PHK dilakukan secara bertahap sejak akhir 2025. Sekretaris Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Lebak, Rully Chaeruliyanto, menyebut PHK terakhir terjadi pada Jumat, 23 Oktober 2026, dengan total pekerja terdampak sekitar 1.100 orang.
Informasi dari manajemen menyebutkan bahwa produksi akan dipindahkan ke daerah lain. Hingga berita ini ditulis, belum ada kepastian mengenai perusahaan baru yang akan menempati bekas lokasi pabrik.
1.100
Pekerja terkena PHK
Bertahap sejak akhir 2025 hingga 23 Oktober 2026
Bukan Hanya Soal Kontrak
Bupati Lebak, Hasbi Asyidiki Jayabaya, meminta penutupan pabrik tidak dilihat dari satu sudut pandang. Ia menyinggung kemungkinan adanya gangguan dari oknum tertentu yang memengaruhi kenyamanan berusaha di Lebak.
"Lebak ini daerah jawara, Banten, ini. Mungkin saja mereka berbisnis, ada gangguan dari jawara, dari oknum," kata Hasbi saat menghadiri pembukaan bank swasta di Rangkasbitung, Senin, 26 Oktober 2026.
Hasbi tidak merinci bentuk gangguan yang dimaksud maupun pihak yang diduga terlibat. Hingga kini, belum ada bukti yang disampaikan untuk memastikan dugaan tersebut berkaitan langsung dengan keputusan PWI 6 menghentikan operasionalnya.
Yang ia tegaskan: pemerintah daerah akan mengawal pemenuhan hak pekerja. Sekda dan Disnaker diperintahkan memastikan pesangon dibayarkan sesuai kewajiban perusahaan.
Dampak yang Tidak Tercatat di Berita PHK
Di seberang pabrik, dampak penutupan terasa pada usaha kecil yang selama ini bergantung pada aktivitas karyawan. Kantin-kantin di sekitar lokasi pabrik kini sepi. Sebagian bahkan tutup sejak Sabtu, 24 Oktober 2026.
Seorang pekerja kantin yang enggan disebutkan namanya menuturkan bahwa pendapatan tempatnya bekerja turun drastis. Sebelum pabrik berhenti, ia bisa menjual 20 hingga 50 gelas kopi sehari, belum termasuk makanan dan kue. Kini, pelanggan utamanya menghilang.
"Iya, karena kan sudah enggak ada yang kerja di sini," ujarnya kepada Beritasatu.com.
Kantin tersebut masih beroperasi, tetapi lebih banyak mengandalkan pengendara yang melintas. Omzet tidak lagi seramai ketika ribuan karyawan datang setiap hari untuk makan siang atau istirahat.
Fenomena ini bukan hal baru dalam penutupan pabrik besar. Ketika satu perusahaan berhenti, yang hilang bukan hanya upah pekerja, tetapi juga perputaran uang harian di lingkungan sekitar: warung makan, pedagang keliling, jasa transportasi, hingga penyedia kebutuhan rumah tangga karyawan.
Kronologi penutupan PWI 6
Sejak 2018: PWI 6 beroperasi di Rangkasbitung dengan status menyewa gedung.
Akhir 2025: PHK gelombang pertama dimulai. Sekitar 900 karyawan dirumahkan secara bertahap.
23 Oktober 2026: PHK terakhir. Total pekerja terdampak mencapai sekitar 1.100 orang.
24 Oktober 2026: Kantin-kantin di sekitar pabrik mulai tutup.
26 Oktober 2026: Bupati Lebak menyoroti dugaan gangguan investasi oleh oknum. Disnaker menyatakan pesangon telah dibayarkan berdasarkan informasi yang diterima.
Pesangon dan Ketidakpastian Kerja
Disnaker Lebak menyatakan bahwa pesangon telah dibayarkan. Namun, hingga 26 Oktober, belum ada rincian jumlah pekerja yang menerima, besaran pembayaran, maupun kepastian bahwa seluruh hak sesuai ketentuan terpenuhi. Disnaker juga belum menerima laporan dari serikat pekerja.
Pemerintah daerah menyatakan akan memprioritaskan mantan pekerja PWI 6 untuk mengisi lowongan di perusahaan baru yang masuk ke Lebak. Pengalaman mereka di sektor manufaktur dinilai sebagai modal.
Namun hingga kini, belum ada perusahaan baru yang dikonfirmasi akan beroperasi di lokasi bekas PWI 6. Bagi sebagian pekerja, ketidakpastian ini berarti menunggu tanpa jadwal yang jelas.
Salah satu mantan pekerja, Elsa Mariana Hutami (24), mengaku kehilangan penghasilan sekitar Rp4 juta hingga Rp5 juta per bulan. Ia berharap pemerintah daerah lebih aktif mendorong pembukaan lapangan kerja.
Pelajaran untuk Usaha Kecil
Bagi pemilik usaha yang bergantung pada satu sumber pelanggan besar, kisah kantin di sekitar PWI 6 adalah pengingat yang tidak nyaman tetapi penting.
Ketergantungan pada satu pembeli adalah risiko. Kantin yang 80 persen pelanggannya adalah karyawan pabrik tidak memiliki penyangga ketika pabrik berhenti. Usaha kecil yang melayani satu klien atau satu kawasan industri perlu memikirkan diversifikasi sebelum guncangan datang, bukan sesudahnya.
Dampak ekonomi menyebar ke hilir. Berita PHK menyebut angka 1.100. Angka itu tidak menghitung pedagang yang kehilangan penghasilan, pengemudi ojek yang kehilangan penumpang, atau pemasok bahan makanan yang kehilangan pesanan. Dalam perencanaan usaha, penting untuk melihat siapa saja yang bergantung pada rantai yang sama.
Pemulihan butuh waktu lebih lama dari yang dijanjikan. Pemerintah daerah berbicara tentang memprioritaskan mantan pekerja dan menarik investasi baru. Tetapi tanpa perusahaan pengganti, janji itu belum memiliki tenggat. Bagi usaha kecil di sekitar pabrik, bertahan berarti mencari pelanggan baru sambil menunggu sesuatu yang belum pasti.
Baca liputan lengkap dampak penutupan PWI 6
Beritasatu.com memotret langsung kantin-kantin yang kehilangan pembeli setelah pabrik berhenti beroperasi.
Buka berita Beritasatu